Pendidikan

UPAYA ISHLAH YANG DILAKUKAN OLEH KAUM MU’MININ

UPAYA ISHLAH YANG DILAKUKAN OLEH KAUM MU’MININ

UPAYA ISHLAH YANG DILAKUKAN OLEH KAUM MU’MININ

Setelah kita mengerti kedok-kedok ishlah yang ada di kalangan orang-orang munafiqin, maka kita perlu mengerti hakikat ishlah itu sendiri. Dalam keterangan Al-Qur’an dan Al-Hadits, kita dapati beberapa ungkapan sebagai berikut:

1). Ishlah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul Allah dalam rangka menjalankan misi dakwah mengajak manusia ke jalan Allah Ta`ala dengan agama yang diridhoi olehNya. Hal ini seperti yang diberitakan tentang perjuangan dakwah Nabi Syu’aib `alaihis salam di kalangan kaumnya yaitu penduduk negeri Madyan, dalam Al-Qur’an surat. Hud 88:

“Syu’aib berkata: Wahai kaumku, bagaimana pandanganmu bila aku di atas kebenaran dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari sisi-Nya dengan anugerah yang baik. Dan aku tidaklah ingin menyelisihi kalian dalam apa yang kalian telah dilarang darinya. Aku tidak menginginkan dari kalian kecuali ishlah dengan sebesar kemampuanku. Dan tidak ada yang memberi taufiq (bimbingan) bagiku kecuali Allah. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku bertaubat.” ( Hud : 88)

2). Perintah Allah Ta`ala terhadap kaum Mu’minin untuk mengupayakan ishlah diantara mereka dalam menjalankan ketentuan agama Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya dalam Al-Qur’an di surat Al-Anfal 1:

“Mereka bertanya kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah sesungguhnya harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan upayakanlah ishlah di antara kalian dan taatilah Allah dan Rasul-Nya bila kalian memang sebagai orang-orang Mu’min.” ( Al-Anfal : 1)

3). Perintah Allah Ta`ala terhadap kaum Mu’minin untuk mengupayakan ishlah diantara mereka dalam rangka memadamkan pertikaian dan perselisihan yang terjadi diantara sesama kaum Mu’minin. Hal ini ditegaskan oleh-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat 10:

“Hanyalah kaum Mu’minin itu bersaudara di antara mereka. Oleh karena itu upayakanlah ishlah di antara kalian dan bertaqwalah kepada Allah. Semoga dengan taqwa itu kalian akan dirahmati-Nya.” ( Al-Hujurat : 10)

4). Perjuangan ishlah sekelompok kecil dari kaum Mu’minin ketika Islam telah dianggap sebagai agama yang asing oleh ummat manusia umumnya dan Ummat Islam khususnya. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam sebagai berikut:

“Islam itu mulai didakwahkan dalam keadaan asing dan akan kembali dianggap asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing (karena menjalankan agama dengan benar, pent).” (HR. Muslim dalam Shahih nya, Kitabul Iman bab Bada’al Islamu Ghariban wa Saya’uudu Ghariban , hadits ke 145 / 232, dari Abi Hurairah).

Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Aajurri meriwayatkan dalam kitab beliau Al-Ghuraba’ Minal Mu’minin beberapa sabda Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang menjawab pertanyaan tentang siapakah orang-orang terasing yang beruntung itu dan apa perjuangan mereka. Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam ditanya:

“Ditanyakan: Siapakah mereka yang beruntung itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu orang-orang yang melakukan upaya ishlah ketika keumuman orang dalam kerusakan.” (HR. Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba’ minal Mu’minin hal. 23 no. 1 dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu `anhu )

Al-Aajurri juga meriwayatkan pertanyaan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dan jawaban beliau sebagai berikut:

“Dan siapakah orang-orang asing yang beruntung itu wahai Rasulullah? Beliau pun menjawab: Ialah orang-orang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah-tengah kebanyakan orang yang telah rusak aqidah dan akhlaqnya. Orang yang menentangnya lebih banyak dari pada orang yang menurutinya.” (HR. Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba’ minal Mu’minin hal. 28 no. 6 dari Abdullah bin Amru)

5). Perjuangan kelompok kecil dalam melakukan ishlah itu disebutkan dalam beberapa riwayat sebagai berikut ini:

a). Membantah segala bentuk penyimpangan agama Allah yang dilakukan oleh para pencoleng agama:

“Akan mewarisi ilmu ini dari setiap generasi, orang-orang yang terpercaya daripadanya. Mereka itu melakukan upaya membantah segala penafsiran orang-orang bodoh, dan kebohongan orang-orang sesat, serta membantah penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra jilid 10 halaman 209 dari Ibrahim bin Abdurrahman Al-Adzari).

b). Membangkitkan kembali semangat mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah setelah Ummat Islam keumumannya dalam keadaan menjauhi dan atau jahil tentang keduanya:

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi ummat ini setiap seratus tahun, orang yang akan memperbaharui agama mereka.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath jild 6 halaman 323 – 324, riwayat ke 6527, dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu ).

c). Terus-menerus istiqamah dalam melakukan perjuangan menyeru manusia kepada kebenaran dan mencegah manusia dari kemunkaran, walaupun beresiko menghadapi pengucilan dari ummatnya:

“Bahkan kalian terus-menerus menyeru manusia kepada kebenaran dan mencegah manusia dari kemunkaran. Sehingga engkau melihat kekikiran yang keterlaluan, dan hawa nafsu yang dituruti, dunia yang diutamakan, dan setiap orang berbangga dengan pikirannya. Bila terjadi semua itu, maka engkau harus lebih utamakan keselamatan dirimu dan orang-orang khusus bagimu, dan hati-hatilah engkau dari urusan keumuman masyarakat. Karena hidup di tengah-tengah mereka itu adalah hari-hari kesabaran. Orang yang berhasil sabar di kalangan mereka dalam terus menempuh kebenaran, adalah seperti orang yang sedang memegang bara api. Dan orang yang terus beramal (dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah) di tengah masyarakat demikian, adalah seperti orang yang mendapat pahala lima puluh kali lipat dari amalan kalian (yakni para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam ).” (HR. Abu Dawud dalam Sunan nya hadits ke 4341, dan Tirmidzi dalam Sunan nya hadits ke 3058, dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani).

Demikianlah perjuangan ishlah yang dilakukan oleh kelompok kecil yang terus-menerus melakukan upaya ishlah di tengah masyarakatnya yang rusak pemahaman dan pengamalan agamanya. Ishlah yang dilakukan kelompok ini tentu adalah makna ishlahyang sesungguhnya. Semangat ishlah yang dilakukan kelompok kecil ini dengan mengacu kepada semangat mengikhlaskan amalannya hanya untuk Allah semata, jauh dari syirik dan semangat ittiba’ (yakni mengikuti tuntunan As-Sunnah) semata, jauh dari bid’ah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menerangkan dalam kitabnya yang berjudul I’lamul Muwaqqiin `an Rabbil Aalamin jilid 1 hal 109 – 110 sebagai berikut:

“Maka ishlah yang diperbolehkan dilakukan di antara kaum Muslimin adalah ishlah yang bersandarkan kepada keridlaan Allah dan keridlaan kedua pihak yang bertikai. Maka yang demikian itu adalah ishlah yang paling adil dan paling benar. Yaitu ishlah yang bersandar kepada ilmu (yakni ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits) dan juga bersandarkan kepada keadilan. Sehingga orang yang melakukan upaya ishlah itu haruslah dalam keadaan sebagai orang yang berilmu dengan situasi dan kondisi dimana terjadi padanya pertikaian itu, dan juga haruslah orang yang berilmu tentang apa yang diwajibkan oleh agama, serta bertujuan untuk menegakkan keadilan. Maka orang yang melakukan ishlah dengan cara demikian ini lebih mulia dari derajatnya orang yang melakukan puasa dan shalat, sebagaimana hal ini telah diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam dalam sabdanya sebagai berikut (yang artinya): “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang lebih utama dari derajatnya orang yang suka berpuasa dan orang yang menunaikan shalat?” Para Shahabat menjawab: “Bahkan kami menginginkannya wahai Rasulullah.” Maka beliau pun bersabda: “Ialah orang yang melakukan upaya ishlah di antara dua pihak yang bertikai. Karena kerusakan hubungan antara dua pihak yang bertikai itu adalah penggundul. Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah menyatakan penggundulan rambut. Akan tetapi penggundulan agama.” (Lihat I`lamul Muwaqqiin jilid 1 hal. 110). Demikian Ibnu Qayyim menerangkan.

Sumber : https://anchorstates.net/